Minggu, 22 November 2020

Menyusun Skripsi Mudah Bab 1

stratup.pixabay.com


Topik: Menyusun Bab 1 Pendahuluan Skripsi

1. Menyusun Latar belakang skripsi

Halo, kita sekarang akan membahas tentang bab 1 pada bagian skripsi atau karya ilmiah yang terdiri dari Latar belakang, Rumusan masalah, Tujuan penelitian, Manfaat penelitian. Pada bagian ini, seorang mahasiswa dituntut untuk mampu memahami dasar penelitian. Pada bagian ini, mahasiswa harus mampu mengungkapkan mengapa penelitian tersebut layak untuk dilakukan.

Latar belakang

Sebuah penelitian selalu dimulai dari latar belakang. Hal ini tentu saja memiliki maksud penting. Dalam latar belakang merupakan landasan atau dasar mengapa penelitian dilakukan. Tapi kira-kira apa saja hal penting yang perlu diperhatikan dalam latar belakang. Berikut ini hal yang perlu diperhatikan:

1. Menyadari pertanyaan penelitian
2. Memahami fenomena khusus atau unik terkait dengan masalah penelitian
3. Memahami gap penelitian
4. Memahami pentingnya penelitian untuk dilakukan.

Menyusun Pertanyaan Penelitian.

Pada bagian ini, banyak yang masih bingung antara pertanyaan penelitian, tujuan penelitian, dan rumusan masalah. Ketiga hal ini memang mirip tapi berbeda. Nah, kita akan bahas satu-satu ya.

Secara sederhana, pertanyaan penelitian merupakan dasar dari penelitian. Dengan kata lain, tujuan dari penelitian adalah untuk menjawab pertanyaan penelitian. Apakah pertanyaan penelitian sama dengan rumusan masalah? pada dasarnya bukan. Tapi bisa saja pertanyaan penelitian menjadi rumusan masalah. Kalau masih bingung kita akan bahas lebih lanjut.

Pertanyaan penelitian ditandai dengan kata tanya. Namun pertanyaan penelitian terkadang tidak muncul secara jelas dalam penelitian tetapi merupakan hal penting atau dasar dalam penelitian. Mungkin berikut ini adalah beberapa contoh: 

"Faktor apa yang mempengaruhi efektifitas kinerja?" 
" Apakah dampak penerapan sistem informasi pada organisasi?"
"Apakah dampak bantuan pemerintah berdampak pada kesejahteraan?"
" Bagaimana  teknologi bisa  meningkatkan kolaborasi?" 
"Mengapa teknologi informasi tidak berhasil diterapkan di desa?"
" Apakah proyek A lebih berhasil dari proyek B??
"Mengapa masyarakat menolak bantuan pemerintah?

Di atas adalah contoh dari pertanyaan penelitian yang akan dijawab melalui penelitian yang kita lakukan. Karena itu, dari masalah yang akan diteliti,  pertanyaan apa yang akan dijawab perlu disiapkan. Bagaimana kita dapat menemukan pertanyaan penelitian? Mungkin pertanyaan ini juga bisa muncul. Kita bisa mendapatkan ide penelitian dari pertanyaan penelitian. Oleh karena itu, kita perlu memperhatikan masalah disekitar kita atau teori atau konsep yang kita pelajari. Intinya perlu banyak baca buku, koran, berita.

Banyak membaca atau mendengarkan berita, akan memancing kita untuk menemukan ide penelitian yaitu, pertanyaan penelitian. Kita hanya perlu bertanya tentang apa, bagaimana, mengapa sesuatu dapat terjadi. 

Memahami Fenomena Penelitian

Dari banyak buku atau berita atau materi yang kita baca kita akan menemukan fenomena. Nah, fenomena ini merupakan suatu gambaran kejadian atau gejala dari suatu masalah. Contohnya: Ada fenomena, pemerintah daerah mendapat hasil opini audit Wajar tanpa pengecualian, tetapi masih ada korupsi. Contoh lain, Dana desa diharapkan dapat meningkatkan pembangunan desa, tetapi kenyataannya tidak terjadi pembangunan. Nah, itu adalah contoh fenomena. Lalu dari fenomena ini akan kita perjelas dan cari jawabannya. Berarti fenomena dan pertanyaan penelitian berkaitan? jawabannya ya, berkaitan. Dari fenomena yang ada kita tinggal berikan kata tanya.

Hati-hati: fenomena perlu diungkap dan diperjelas. Selain itu, data yang diperlukan untuk mengungkap fenomena juga perlu disiapkan.

Penting: Fenomena yang baik adalah jelas sumbernya.

FENOMENA VS MASALAH PENELITIAN
Hal lain yang perlu dipahami adalah bahwa fenomena penelitian tidak selalu sama dengan masalah penelitian. Setiap penelitian pasti memiliki setidaknya satu masalah penelitian. Masalah penelitian ini adalah dasar dari kita melakukan penelitian, yang nanti akan diwujudkan dalam pertanyaan penelitian. 

Contoh dari fenomena/gejala: sakit panas sudah lebih dari 1 minggu. Setelah dibawa kedokter ternyata sakit demam berdara. Dalam hal ini, panas tubuh yang sudah lama merupakan fenomena/gejala/tren, yang menjadi indikasi dari adanya penyakit lain. Jadi masalah sesungguhnya adalah penyakit tersebut, sedangkan panas tubuh adalah gejala dari dakit demam berdarah. 

Contoh lain: karyawan sering datang terlambat. Dalam hal ini karyawan yang datang terlambat adalah masalah. Namun, itu sebenarnya adalah fenomena. Masalah sesungguhnya adalah hilangnya motivasi kerja. Dalam hal ini, masasalah yang harus diselesaikan adalah motivasi kerja.

Dalam beberapa penelitian kualitatif, fenomena dapat manjadi masalah penelitian. Penelitian tersebut tersebut disebut dengan fenomenologi. Jadi kita perlu memastikan dulu apakah kejadian atau fenomena atau masalah.
 
Jadi ingat ya, pertanyaan penelitian bisa muncul dari fenomena yang sudah dirumuskan dalam masalah penelitian.

Memahami Gap Penelitian

Langkah selanjutnya dalam menyusun latarbelakang adalah Gap Penelitian. Gap penelitian merupakan celah yang menunjukkan apa yang masih belum diungkap atau apa yang belum jeas dari penelitian sebelumnya. Gap penelitian bisa muncul dari beberapa hal:

1. Gap dari fenomena. 
Gap yang muncul dari perbedaan antara konsep biasanya lebih mudah untuk cari. Contoh: Pemerintah menetapkan melalui peraturan,  bahwa pencairan Dana Desa dengan tujuan untuk mendukung pencapaian desa yang sejahtera, namun apakah benar demikian kenyataannya. Ternyata ada beberapa desa yang belum sejahtera. Kondisi yang berlawanan ini bisa menjadi gap dalam penelitian. Contoh lain lagi, pemerintah menetapkan aturan anggaran berbasis kinerja untuk meningkatkan kinerja, namun ada pemerintah daerah yang mimiliki kinerja rendah. Perbedaan antara yang diharapkan dengan hasilnya, dapat menjadi gap penelitian antara konsep dan praktik. Contoh lain lagi, pemeritah daerah A mendapat peningkatan kinerja dari tahun sebelumnya. Lalu, apa faktor yang menyebabkan peningkatan tersebut. Contoh lain, Teori mengatakan bahwa bonus atau insentif akan meningkatkan kinerja. Namun, ditemui praktik bahwa bonus tidak meningkatkan kerja pada suatu organisasi. 

Kalau diperhatikan, contoh gap di atas hampir sama dengan atau mirip dengan fenomena. Nah, fenomena dan gap bpenelitian bisa sama, dan bisa mendorong munculnya pertanyaan penelitian. 

Untuk mahasiswa S1, gap penelitian yang berasal dari fenomena akan lebih mudah karena penjelasannya tidak terlalu sulit karena berasal dari fenomena yang terjadi yang materinya lebih cenderung mudah dtemukan.

2. Gap antara Penelitian Terdahulu
Pada gap ini, kita akan menjelaskan apa yang belum dijelaskan oleh penelitian terdahulu. Untuk bisa menemukan gap dari penelitian terdahulu maka kita perlu membaca banyak artikel. Gap yang berasal dari penelitian sebelumnya akan lebih baik dibandingkan dengan gap yang hanya berasal dari fenomena. Hal ini disebabkan oleh nilai peneltian yang dilakukan dapat mendukung kekurangan dari peneltian terdahulu, sehingga pengetahuan akan lebih lengkap. Untuk menemukan gap dari penelitian sebelumnya kita perlu memahami apa yang sudah dilakukan oleh peneltian sebelumnya dan apa yang masih kurang dalam penelitan tersebut. 

Hati-hati: Beberapa mahasiswa menjelaskan gap penelitian terdahulu karena hasil penelitian terdahulu (vhasil uji variabel) berbeda-beda. Dalam hal ini perlu diperhatikan konteks penelitian-penelitian terdahulu tersebut. Jika terdapat banyak sekali perbedaan hasil maka hal itu menunjukkan bahwa variabel tersebut bersifat kontekstual, sehingga jika kita menggunakan veriabel yang sama atau menguji penelitian tersebut pada lokasi yang berbeda maka kemungkinan hasil juga akan berbeda akan terjadi lagi. Maka sekali lagi konteks penelitian pada penelitian terdahulu perlu diperhatikan.

3. Gap yang berasal dari teori dan praktik
Penelitian kualitatif banyak menggunakan gap ini untuk menguji atau melihat praktik atau kenyataan dari teori. Untuk mengungkap gap ini, pemahaman terhadap kasus pada suatu objek penelitian perlu sangat mendalam. Selain itu, pemahaman teori yang diangkat juga diperlukan. 

Ok, sampai sini mungkin ada pertanyaan, mana gap yang terbaik? Kita dapat menggabungkan gap terserbut dalam suatu penelitian. Tapi perlu hati-hati kalau kebanyakan nanti tidak fokus. Fokus saja pada pertanyaan penelitian. Biasanya menggabungkan 2 gap akan sangat baik. Tapi kalau tidak bisa, 1 saja sudah cukup. 

Memahami Pentingnya penelitian untuk dilakukan

Sampai pada tahap ini kita perlu meyakinkan pada para pembaca, mengapa penelitian ini perlu dilakukan, apa pentingnya penelitian ini. Hal ini perlu diungkap jelas pada latar belakang penelitian. Menemukan pentingnya penelitian bisa dar beberapa hal:

1. Dari gap penelitian. 
Gap penelitian yang diangkat dalam latar belakang merupakan point yang baik untuk meyakinkan pembaca bahwa penelitian kita layak untuk dilakukan.
2. Dari manfaat penelitian
Kita perlu meyakinkan pembaca bahwa penelitian kita bermanfaat untuk pihak yang dituju dari penelitian ini. 

Sampai sini kita telah mengetahui apa saja hal penting yang perlu diungkap dalam latar belakang penelitian. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam latar belakang penelitian adalah panjangnya halaman penelitian. Usahakan minimal 3 halaman dan maksimal 5 halaman. Memang tidak ada peraturan pasti dalam skripsi, yang penting fokus pada isi dari latar belakang. Jika dalam artikel penelitian di jurnal, maka pendahuluan cukup 2 halaman namun perlu ringkas dan berisi. Ingat ya ringkas dan bermakna lebih baik dari banyak kata-kata tetapi tidak jelass.

2. Rumusan masalah

Setelah latar belakang, selanjutnya adalah rumusan masalah. Rumusan masalah sering dikaitkan dengan pertanyaan penelitian. Ya bisa saja, karena tidak semua penelitian menggunakan hipotesis. Tapi pada dasarnya rumusan masalah berbeda dengan pertanyaan penelitian. Dalam rumusan masalah kita perlu menegaskan lagi apa masalah dalam penelitian dan kaitan variabel yang kita gunakan dengan masalah penelitian. Dari masalah penelitian dan pertanyaan penelitian, kita akan menyusun rumusan masalah. Terutama pada  penelitian kuantitatif yang menggunakan hipotesis, pertanyaan lebih khusus diarahkan pada hipotesis yang akan dibangun. 

Dalam rumusan masalah kita perlu sedikit mengangkat variabel yang akan kita uji dalam penelitian, kemudian kita merumuskan pertanyaan lebih detail. Contoh

"Apakah penerapan sistem berpengaruh terhadap kinerja?"
"Apakah kebijakan manajemen berpengaruh pada kinerja?"

Pertanyaan itu mengarahkan pada variabel x atau independen yang akan mempengaruhi variabel y atau dependen. Nah, pertanyaan pada rumusan masalah ini mengarah pada hipotesis yang akan dikembangkan nanti. 

Penting:
"...Ingat ya, jangan menulis dalam rumusan masalah: 
seperti masalah yang dijelaskan di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:...."

Kita tetap perlu menegaskan masalah penelitian dan kaitan dengan variabel yang digunakan dalam bentuk paragraf sebelum kita menyatakan rumusan masalah dalam bentuk kalimat tanya.


3. Tujuan penelitian

Seperti yang disampaikan dalam pertanyaan penelitian, tujuan penelitian adalah menjawab pertanyaan penelitian bukan rumusan masalah. Sekali lagi, pertanyaan penelitian bisa dimunculkan bisa juga tidak. Jika dimunculkan, bisa disampaikan di latar belakang. Kita bisa mengetahui pertanyaan penelitian dari tujuan penelitian. 

Contoh:
Pertanyaan penelitian: faktor apa yang mempengaruhi efektifitas kinerja? Maka tujuan penelitian penelitian bisa saja untuk menguji faktor yang dapat mempengaruhi efektifitas kinerja. 

Kata kata yang bisa digunakan untuk ini mengungkapkan tujuan penelitian adalah menguji, mengavulasi, mengidentifikasi, dan lainya.. hanya hindari kata mengetahui, karena maknanya lebih dangkal. 




Sampai di sini kita telah memahami sebagian besar dari isi bab 1. Setelah ini bab 1 bisa dilanjutkan dengan manfaat penelitian dan sistemaktika penulisan. Pada Manfaat penelitian kita bisa mengulangi lagi pentingnya peneltian dilakukan dari sisi manfaat praktis. Secara umum struktur penulisan bisa mengacu pada halaman pertama web ini.


Poin yang bisa dijadikan panduan dalam menyusun latar belakang/pendahuluan

  1. Jelaskan fenomena penelitian (fenomena bisa mngacu pada data)
  2. Jelaskan mengapa fenomena ini penting diteliti. (pada bagian ini jelaskan masalah dan dampak fenomena sehingga kita juga bisa merumuskan apa yang menjadi masalah penelitian)
  3. Jelaskan gap penelitian. (bagaimana penelitian terdahulu dilakukan terkait dengan masalah dan apa yang belum diteliti)
  4. Jelaskan mengapa gap ini penting diteliti
  5. Jelaskan mafaat penelitian ini



Sabtu, 21 November 2020

Menulis Latar belakang Skripsi

 Topik: Menyusun Bab 1 Latar belakang dalam skripsi

Halo rekan-rekan,


Kali ini saya mau bagikan tips bagaimana menyusun suatu karya ilmiah dalam skripsi. Bagi rekan-rekan mahasiswa pasti alami tugas ini. Ok, langsung saja kita mulai memahami skripsi atau karya ilmiah secara sederhana. Pada dasarnya skripsi terdiri dari 5 bagian, yaitu Latarbelakang, studi literatur, metode penelitian, pembahasan dan analisa, kesimpulan. Coba kita bahas satu satu ya.

1. Latarbelakang

Pada bagian ini apa saja yang harus dimuat:
a. Fenomena
b. Gap masalah
c. Alasan pentingnya melakukan penelitian.

Minimal ketiga hal ini harus ada. Jadi pastikan ketiga point ini ada di latar belakang. 
Pertama perlu tahu fenomena. Secara mudah hal ini adalah masalah umum atau kejadian atau gejala dari topik yang akan diteliti. Fenomena contohnya: banyaknya pengguna internet, banyaknya sistem yang digunakan, beberapa organisasi gagal mencapai kinerja, adanya penolakan terhadap suatu sistem atau aturan, dll.. Fenomena bisa datang dari masalah riil atau dari masalah yang ada pada penelitian terdahulu.. Contoh fenomena dari penelitian terdahulu adalah belum ada penelitian terkait masalah teknologi di desa, misalnya.. Nah untuk mempermudah mahasiswa S1, fenomena yang berasal dari masalah riil akan lebih mudah diterapkan dari pada fenomena dari penelitian terdahulu. Hanya perlu mengamati dan banyak baca untuk menemukan masalah di sekitar kita.. 


Kedua, gap masalah. Secara mudah gap adalah sesuatu yang belum diteliti. Contoh gap yang muncul dari masalah, yaitu. Kita belum tahu apa yang menyebabkan kinerja menurun. Kita belum tahu apa yang menyebabkan sistem gagal. Oleh karena itu kita mau cari penyebabnya melalui penelitian.. selain itu bisa juga, dampak yang belum diketahui. Contohnya, penerapan kebijakan manajemen belum belum diketahui dampaknya.. Nah ini adalah gap dari masalah yang lebih mudah untuk mahasiswa S1. Gap juga bisa muncul dari penelitian terdahulu atau teori. Contoh, banyak penelitian meneliti pengaruh moral terhadap niat berdonasi tetapi tidak ada atau belum ada yang meneliti tentang pengaruh teknologi terhadap niat berdonasi. Dari masalah yang belum diteliti ini bisa menjadi gap penelitian. Atau dampak bagaimana praktek suatu teori belum diketahui. Nah ini bisa jadi gap juga. Tapi biasanya tidak mudah untuk anak S1. 





Ketiga, alasan pentingnya meneliti. Nah, ini biasanya digunakan untuk memperkuat alasan penelitian kita. Pada tahap ini kita perlu meyakinkan pembaca bahwa penelitian ini penting untuk dilakukan. Biasanya manfaat penelitian merupakan sesuatu yang bisa dimuat di sini.. 

Ok, cukup sekian dulu